Sabtu, 22 September 2012

MOBILITAS SOSIAL IPS XI SMK



MOBILITAS SOSIAL 

A.  Pengertian Umum :
  • Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial. Jadi, mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang. 

Contoh lain, seorang anak pengusaha ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda dengan ayahnya. Namun, ia gagal dan akhirnya jatuh miskin. Proses perpindahan posisi atau status sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility) Pengertian menurut Ahli : 


·  Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. • 
·  Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. 


Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.
B. Bentuk-bentuk mobilitas sosial 

Dilihat dari arah pergerakannya terdapat dua bentuk mobilitas sosial , yaitu mobilitas sosial vertikal dan mobilitas sosial horizontal. Mobilitas social vertical dapat dibedakan lagi menjadi social sinking dan social climbing. Sedangkan mobilitas horizontal dibedakan menjadi mobilitas social antarwilayah (geografis) dan mobilitas antargenerasi.

1. Mobilitas vertikal
Mobilitas Vertika : adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Mobilitas vertikal mempunyai dua bentuk yang utama :
  • Mobilitas vertikal keatas
  • Mobilitas vertikal ke bawah

A. Mobilitas vertical ke atas (Sosial Climbing) Sosial climbing adalah mobilitas yang terjadi karena adanya peningkatan status atau kedudukan seseorang
Sosial climbing memiliki dua bentuk, yaitu :
  • Naiknya orang-orang berstatus sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi, dimana status itu telah tersedia. Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. Karena memenuhi persyaratan, ia diangkat menjadi kepala sekolah. 
  • Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari pada lapisan sosial yang sudah ada. Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut, sehingga status sosialnya naik. 
Adapun penyebab sosial climbing adalah sebagai berikut :
  •  Melakukan peningkatan prestasi kerja 
  • Menggantikan kedudukan yang kosong akibat adanya proses peralihan generasi
B. Mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking) Sosial sinking merupakan proses penurunan status atau kedudukan seseorang. Proses sosial sinking sering kali menimbulkan gejolak psikis bagi seseorang karena ada perubahan pada hak dan kewajibannya.

Social sinking dibedakan menjadi dua bentuk :
  •  Turun nya kedudukan seseorang ke kedudukan lebih rendah. Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya. 
  • Tidak dihargainya lagi suatu kedudukan sebagai lapisan sosial. Contoh Tim Juventus terdegradasi ke seri B. 
Penyebab sosial sinking adalah sebagai berikut.:
  •  Berhalangan tetap atau sementara.
  •  Memasuki masa pensiun. 
  • Berbuat kesalahan fatal yang menyebabkan diturunkan atau di pecat dari jabatannya. 
2. Mobilitas horizontal 
Mobilitas Horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dengan kata lain mobilitas horisontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat.

Ciri utama mobilitas horizontal adalah tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya.
  • Contoh: Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya. 
Mobilitas social horizontal dibedakan dua bentuk :
  • Mobilitas social antar wilayah/ geografis Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.Cara untuk melakukan mobilitas sosial 
  • Mobilitas antargenerasi Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya. Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang becak. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapi ia berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukkan telah terjadi mobilitas vertikal antargenerasi. 
Mobilitas antargenerasi dibedakan menjadi dua, yaitu mobilitas intragenerasi dan mobilitas intergenerasi.
  • Mobilitas intragenerasi adalah  mobilitas yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam satu generasi yang sama. Contoh: Pak Darjo awalnya adalah seorang buruh. Namun, karena ketekunannya dalam bekerja dan mungkin juga keberuntungan, ia kemudian memiliki unit usaha sendiri yang akhirnya semakin besar. Contoh lain, Pak Bagyo memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Endra bekerja sebagai tukang becak, dan Anak ke-2, bernama Ricky, yang pada awalnya juga sebagai tukang becak. Namun, Ricky lebih beruntung daripada kakaknya, karena ia dapat mengubah statusnya dari tukang becak menjadi seorang pengusaha. Sementara Endra tetap menjadi tukang becak. Perbedaan status sosial antara Endra dengan adiknya ini juga dapat disebut sebagai mobilitas intragenerasi. 
  • Mobilitas Intergenerasi adalah perpindahan status atau kedudukan yang terjadi diantara beberapa generasi. 
Mobilitas intergenerasi dibedakan menjadi dua yaitu:
  • Mobilitas intergenerasi naik 
  • Mobilitas intergenerasi turun Contoh : Kakeknya seorang bupati, bapaknya seorang camat dan anaknya sebagai kepala desa.(intergenerasi turun) 
C. Hubungan Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial 

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa mobilitas sosial merupakan perpindahan status ataukedudukan dari satu lapisan ke lapisan yanhg lain. Perpindahan tersebut terjadi dalam suatu struktur sosialyang berdimensi vertikal, artinya mudah-tidak nya seseorang melakukan mobilitas sosial tergantung dari struktur sosial masyarakatnya.

1. Mobilitas sosial dalam sistem stratifikasi sosial terbuka

Masyarakat yang memiliki sistem stratifikasi sosial terbuka memberi kesempatan pada para anggotanya untuk melakukan mobilitas sosial vertikal yang terjadi dapat berupa sosial climbing ataupun sinking. Dalam sistem stratifikasi soaial yang terbuka memungkinkan setiap anggota masyarakat bersikap aktif dan kreatif dalam melakukan perubahan-perubahab untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya
Prinsip umum mobilitas sosial dalam masyarakat yang menganut stratifikasi terbuka adalah sebagai berikut:
  • Tidak ada satu pun masyarakat yang mutlak tertutup terhadap mobilitas sosial vertikal 
  • Seterbuka apapun suatu masyarakat terhadap mobilitas sosial, terkadang tetap ada hambatan-hambatan. 
  • Setiap masayarakat pasti memiliki tipe mobilitas sosial vertikal sendiri, tidak ada tipe yang berlaku umum bagi setiap masyarakat. 
  • Laju mobilitas sosial disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan yang berbeda-beda. 
  • Mobilitas sosial yang disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan, tidak menunjukkan adanya kecenderungan yang kontinu tentang bertambah atau berkurang laju mobilitas sosial.
2. Mobilitas Sosial dalam Sistem Stratifikasi Sosial yang Tertutup 

Pada masyarakat yang menganut sistem stratifikasi sosial tertutup kemungkinan terjadinya mobilitas sosial vertikal sangat kecil. Hal ini terjadi karena masyarakatnya lebih mengutamakan nilai-nilai tradisional. Contohnya, masyarakat suku Badui Dalam. Mereka lebih memilih menjaga nilai-nilai tradisional dan menolak adanya perubahan. Dari uraian diatas, jelas terdapat hubungan antara mobilitas sosial yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang dengan struktur sosial masyarakat tempat seseorang atau sekelompok orang tersebut berada.
Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut :
  • Perubahan standar hidup Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. 
  • Perkawinan Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan. Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut. 
  • Perubahan tempat tinggal Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas. 
  •  
D. Faktor-faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial 

Faktor Pendorong Mobilitas Sosial : 
A. Faktor Struktural
Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor struktural adalah sebagai berikut :
  •  Struktur Pekerjaan Disetiap masyarakat terdapat beberapa kedudukan tinggi dan rendah yang harus diisi oleh anggota masyarakat yang bersangkutan 
  •  Perbedaan Fertilitas Setiap masyarakat memiliki tingkat ferilitas (kelahiran) yang berbeda-beda. Tingkat fertilitas akan berhubungan erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang mempunyai kedudukan tinggi atau rendah 
  •  Ekonomi Ganda Suatu negara mungkin saja menerapka sistem ekonomi ganda (tradisional dan modern), contoh nya di negara-negara Eropa barat dan Amerika. Hal itu tentu akan berdampak pada jumlah pekerjaan, baik yang bersetatus tinggi naupun rendah. 
B. Faktor Individu Faktor individu
adalah kualitas seseorang , baik ditinjau dari segi tingkat pendidikan, penampilan, maupun keterampilan pribadi. Faktor Individu meliputi :
  • Perbedaan Kemampauan Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Mereka yang cakap mempunyai kesempatan dalam mobilitas sosial. 
  • Orientasi Sikap terhadap mobilitas Banyak cara yang di lakukan oleh para individu dalam meningkatka prospek mobilitas sosialnya, antara lain melalui pedidikan, kebiasaan kerja, penundaan kesenangan, dan memperbaiki diri.
  • Faktor kemujuran Walaupun seseorang telah berusaha keras dalam mencapai tujuannya, tetapi kadang kala mengalami kegagalan. 
  •  
C. Status Sosial
Setiap manusia dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya, karena ketika ia dilahirkan tidak ada satu manusia pun yang memiliki statusnya sendiri. Apabila ia tidak puas dengan kedudukan yang diwariskan oleh orang tuanya, ia dapat mencari kedudukannya sendiri dilapisan sosial yang lebih tinggi.

D. Keadaan Ekonomi 
Keadaan ekonomi dapat menjadi pendorong terjadinya mobilitas sosial. Orang yang hidup dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, misalnya daerah tempat tinggal nya tandus dan kekurangan SDA, kemudian berpindah tempat ke tempat yang lain atau ke kota besar. Secara sosiologis mereka dikatakan mengalami mobilitas

E.Situasi Politik 
Situasi Politik dapat menyebabkan terjadinya mobilitas sosial suatu masyarakat dalam sebuah negara. Keadaan negara yang tidak menentu akan mempengaruhi situasi keamanan yang bisa mengakibatkan terjadinya mobilitas manusia ke daerah yang lebih aman.

F. Kependudukan (Demografi)
Faktor kependudukan biasanya menyebabkan mobilitas dalam arti geografik. Di satu pihak, pertambahan jumlah penduduk yang pesa mengakibatkan sempitnya tempat permukiman, dan di pihak lain kemiskinan yang semakin merajalela. Keadaan demikian yang membuat sebagian warga masyarakat mencari tempat kediaman lain.

G. Keingina Melihat Daerah Lain 
Adanya keingina melihat daerah lain mendorong masyarakat untuk melangsungkan mobilitas geografik dari satu tempat ke tempat yang lain.

H. Perubahan kondisi sosial 
Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru.

I. Ekspansi teritorial dan gerak populasi 
Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk.

J.Komunikasi yang bebas 
Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.

K. Pembagian kerja
Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut.

L. Kemudahan dalam akses pendidikan 
Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.

Faktor penghambat mobilitas sosial
Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut :
  • Kemiskinan Faktor ekonomi dapat membatasi mobilitas sosial. Bagi masyarakat miskin, mencapai status sosial tertentu merupakan hal sangat sulit 
  • Diskriminasi Kelas Sistem kelas terturup dapat menghalangi mobilitas ke atas, terbukti denga adanya pembatasab keanggotaan suatu orgnisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan. seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan 
  • Perbedaan Ras dan Agama Dalam sistem kelas tertutup dapat memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal ke atas. Dalam agama tidak dibenarka seseorang dengan sebebas-bebasnya dan sekehendak hatinya berpindah-pindah agama sesuai keinginannya. 
  • Perbedaan jenis kelamin (Gender) Dalam masyarakat, pria di pandang lebih tinggi derajatnya dan cenderung menjadi lebih mobil daripada wanita. Perbedaan ini mempengaruh dala mencapai prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan dalam masyarakat. 
  • Faktor Pengaruh Sosialisasi yang Sangat kuat Sosialisasi yang sangat atau terlampau kuat dalam suatu masyarakat dapat menghambat proses mobilitas sosial. Terutama berkaitan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku. 
  • Perbedaan Kepentingan Adanya perbedaan kepentingan antarindividu dalam sutu struktur organisasi menyebabkan masing-masing individu saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu. 
  •  
E. Saluran-Saluran Mobilitas Sosial 
  1. Angkatan Bersenjata Seseorang yang tergabung dalam angkatan bersenjata biasabya ikut berjasa dalam membela nusa dan bangsa sehingga dengan jasa tersebut ia mendapat sejumlah penghargaan dan naik pangkat.
  2. Pendidikan Pendidikan, baik formal maupun nonformal merupakan saluran untuk mobilitas vertikal yang sering digunakan, karena melalui pendidikan orang dapat mengubah statusnya. Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya, yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya 
  3. Organisasi Politik Seorang angota parpol yang profesional dan punya dedikasi yang tinggi kemungkinan besar akan cepat mendapatkan status dalam partainya. Dan mungkin bisa menjadi anggota dewan legislatif atau eksekutif 
  4. Lembaga Keagamaan Lembaga ini merupakan salah satu saluran mobilitas vertikal, meskipun setiap agama menganggap bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sederajat 
  5. Organisasi Ekonomi Organisasi ini, baik yang bergerak dalam bidang perusahan maupun jasa umumnya memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk mencapai mobilitas vertikal. 
  6. Organisasi Profesi Organisasi profesi lainnya yang dapat dijadikan sebagai saluran mobilitas vertikal, antara lain ikatan 
  7. Perkawinan Melauli perkawinan seseorang dapat menaikkan statusnya. Misalnya,seseorang wanita yang berasal dari keluarga biasa saja menikah dengan pria berstatus sosial ekonominya lebih tinggi. Hal ini menyebabkan naiknya status sosial nya sang wanita 
  8. Organisasi keolahragaan Melalui organisasi keolahragaan, seseorang dapat meningkatkan status nya ke strata yang lebih tinggi 
Cara umum memperoleh status
Secara umum terdapat dua cara yang dapat digunakan untuk memperoleh status social, yaitu melalui askripsi dan melalui prestasi 
  • Askripsi, yaitu cara memperoleh kedudukan melalui kelahiran, contohnya system kasta dan gelar kebangsawanan
  • Prestasi, yaitu cara memperoleh status atau kedudukan dengan usaha sendiri. 

Cara khusus untuk menaikan status :
  • Perubahan tingkah laku Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya. Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing. 
  • Perubahan nama Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden"
  • Perubahan tempat tinggal Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
  • Perubahan standar hidup Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. 
  • Bergabung dengan organisasi tertentu Untuk meningkatkan statusnya seseorang dapat bergabung dengan organisasi tertentu , sebagai contoh bergabung dengan organisasi yang berkelas.

G. Dampak Mobilitas Sosial 

Setiap mobilitas sosial akan menimbul kan peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebalik nya akan menimbulkan konflik.
Menurut Horton dan Hunt (1987), ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertikal, di antara nya:
  1. Adanya kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
  2. Timbulnya ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat.
  3. Keterangan hubungan anatar anggota kelompok primer, yang semula karena seseorang berpindah ke status yang lebih tinggi atau ke status yang lebih rendah. 
Adapun dampak mobilitas sosial bagi masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negatif antara lain sebagai berikut.
  • Dampak Positif :
  1. Mendorong Seseorang untuk lebih maju Terbukanya kesempatan untuk pindah dari strata ke strata yang lain menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang untuk maju dalam berprestasi agar memperoleh status yang lebih tinggi. 
  2. Mempercepat Tingkat Perubahan Sosial Masyarakat ke Arah yang Lebih Baik Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.
  3. Meningkatkan Intergrasi Sosial Terjadi nya mobilitas sosial dalam suatu masyarakat dapat meningkatkan integrasi sosial.misalnya, ia akan menyesuaikan diri dengan gaya hidup, nilai-nilai dan norma-norma yang di anut oleh kelompok orang dengan status sosial yang baru sehingga tercipta intergrasi soaial. 
  • Dampak Negatif :
  1. Timbulnya Konflik Konflik yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu sebagai berikut. : 1) Konflik Antarkelas Dalam masyarakat terdapat lapisan-lapisan. Kelompok dalam lapisan tersebut disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antarkelas sosial, maka bisa memicu terjadinya konflik antar kelas. 2) Konflik Antarkelompok sosial Konflik yang menyangkut antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Konflik ini dapat berupa: a. Konflik antara kelompok sosial yang masih tradisional dengan kelompok sosial yang modern b. Proses suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial yang lain yang memiliki wewenang 3) Konflik Antargenerasi Konflik yang terjadi karena adanya benturan nilai dan kepentingan antara generasi yang satu dengan generasi yang lain dalam mempertahankan nilai-nilai denga nilai-nilai baru yang ingin mengadakan perubahan.
  2. Berkurangnya Solidaritas Kelompok Penyesuaian diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam kelas sosial yang baru merupakan langkah yang diambil oleh seseorang yamg mengalami mobilitas, baik vertikal maupun horizontal. Hal ini dilakukan agar mereka bisa diterima dalam kelas sosial yang baru dan mampu menjalankan fungsi-fungsinya 
  3. Timbulnya Gangguan Psikologis Mobilitas sosial dapat pula mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, antara lain sebagai berikut. :

·  Menimbulkan ketakutan dan kegelisahan pada seseorang yang mengalami mobilitas menurun.
·  Adanya gangguan psikologis bila seseorang turun dari jabatannya
·  Mengalami frustasi atau putus asa dan malu bagi orang-orang yang ingin naik ke lapisan atas, tetapi tidak dapat mencapainya

LIMBAH MEMBAWA BERKAH



-->
BAB  I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang


Masalah lingkungan yang dihadapi dewasa ini pada dasarnya adalah masalah ekologi manusia. Dimulai dengan makin maraknya industri besar yang berdiri serta kehidupan masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Mulailah timbuh tumpukan limbah yang tidak dibuang sebagaimana mestinya. Hal ini berakibat pada kehidupan manusia di bumi yang menjadi tidak sehat sehingga menurunkan kualitas kehidupan terutama pada lingkungan sekitar.
Maka dari itu karya tulis ilmiah ini akan dilengkapi dengan faktor – faktor yang timbul dan upaya – upaya yang dapat dilakukan mengenai masalah limbah. Dengan maksud dan tujuan supaya karya tulis ilmiah ilmiah tentang dampak limbah serta penanggulangannya ini dapat dijadikan masukan untuk membenahi kualitas kehidupan karena adanya limbah yang tidak di buang sebagaimana mestinya.
Pada karya tulis ilmiah ini terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh guna meminimalisir dampak dari limbah dan akhirnya kita dapat bersama mengurangi dampak dari adanya limbah sampah. Karena ada juga yang masih dapat dimanfaatkan terutama limbah hewan yang dapat dijadiakan pupuk atau limbah plastik yang isa di daur ulang serta limbah lain yang bisa dimanfaatkan kembali.



1.2. Perumusan Masalah

Penelitian ini mengangkat masalah mengenai pemanfaatan limbah home industry keripik pedas, yang membahas:

1.2.1.     Limbah apa saja yang di hasilkan oleh industri ini ?

1.2.2.     Bagaimana cara memanfaatkan limbah minyak sisa penggorengan keripik sehingga tidak mencemari lingkungan ?

1.2.3.     Bagaimana cara memanfaatkan limbah yang berasal dari kulit singkong sehingga tidak hanya menjadi yang tidak berguna ?








1.3.Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi semua pihak, diantaranya :

1.3.1.      Siswa
Untuk para siswa diharapkan pendaur ulangan limbah menjadi pemicu kesadaran akan pentingnya berpikir kreatif dalam pelestarian lingkungan.


1.3.2.      Guru
Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dalam proses pembelajaran bagi peserta didik untuk lebih mecintai lingkungan.

1.3.3.      Masyarakat
Bagi masyarakat penelitian ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan dalam mengatasi persoalan limbah rumah tangga.
 
-->
BAB II
KAJIAN TEORITIS

2.1. Pengertian Limbah

Limbah berdasarkan Pasal 1 angka (20) Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai limbah) atau juga dapat dihasilkan oleh alam yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik (Cucu Suhendar, IPA SMK Armiko,2006)
Menurut Ecolink 1996 Limbah adalah barang yang terbuang atau dibuang dari aktivitas manusia maupun proses alam.
Sedangkan menurut Wakipedia Indonesia Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik(rumah tangga). Yang kehadirannya pada suatu saat & tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.
Jadi limbah adalah zat buangan tidak terpakai yang berasal dari proses produksi industri maupun domestik yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.
Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Penanganan limbah ini tentunya tidak hanya sekedar mengolah atau mendaur ulang langsung tanpa memperhatikan jenis limbah dan cara penangannanya karena dari setiap limbah yang ada mempunyai ciri berbeda terhadap dampak yang ditimbulkanya.

2.2. Karakteristik Limbah :

Pada umumnya sesuatu yang ada di bumi ini memiliki suatu karakteristik yang berbeda. Termasuk juga limbah yang mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1.      Berukuran mikro
Karekteristik ini merupakan karakterisik pada besar kecilnya limbah atau volumenya. Contoh dari limbah yang berukuran mikro atau kecil atau bahkan tidak bisa terlihat adalah limbah industri berupa bahan kimia yang tidak terpakai yang di buang tidak sesuai dengan prosedur pembuangan yang dianjurkan.





2.      Dinamis
Yang dimaksud dinamis disini adalah tentang cara pencemarannya yang tidak dalam waktu singkat menyebar dan mengakibatkan pencermaran. Biasanya limbah dalam menyerbar di perlukan waktu yang cukup lama dan tidak diketahui dengan hanya melihat saja. Hal ini dikarenakan ukuran limbah yang tidak dapat dilihat.


3.      Berdampak luas (penyebarannya)
Luasnya dampak yang di timbulkan oleh limbah ini merupakan efek dari karakteristik limbah yang berukuran mikro yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Contoh dari besarnya dampak yang ditimbulkan yaitu adanya istilah “Minamata Disease” atau keracunan raksa (Hg) di Jepang yang mengakibatkan nelayan-nelayan mengidap paralis (hilangnya kemampuan untuk bergerak karena kerusakan pada saraf). Kejadian ini terajadi di Teluk Minamata dan Sungai Jintsu karena pencemaran oleh raksa (Hg).

4.      Berdampak jangka panjang (antar generasi)
Dampak yang ditimbulkan limbah terutama limbah kimia biasanya tidak sekedar berdampak pada orang yang terkena tetapi dapat mengakibatkan turunannya mengalami hal serupa.

Dari karakteristik limbah di atas pencemaran limbah juga didukung oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhi pencemaran limbah terhadap lingkungan diantaranya :

1)      Volume Limbah
Tentunya semakin banyak limbah yang dihasilkan oleh manusia dampak yang akan ditimbulkan semakin besar pula terasa.

2)      Kandungan Bahan Pencemar
Kandunngan yang terdapat di limbah ini mengakibatkan pencemaran lingkungan apabila kandunganya berbahaya dapat mengakibatkan pencemaran yang fatal bahkan dapat membunuh manusia serta mahluk hidup sekitar.

3)      Frekuensi Pembuangan Limbah
Pada saat sekarang ini pembuangan limbah semakin naik frekuensinya di karenakan banyaknya industri yang berdiri. Dengan semakin banyak frekuensi limbah tentunya pembuangan limbah menjadi tidak terkandali dan usaha untuk mengolahnya tidak dapat maksimal dikarenakan pengolahan limbah yang masih jauh dari harapan kita semua.




2.3. Sumber dan Jenis Limbah

2.3.1.      Sumber Utama Limbah

Sumber adanya limbah sebenarnya banyak sekali tetapi pada pengelompokannya sumber limbah terdiri dari :

1.  Aktivitas manusia
Saat manusia melakukan aktivitas untuk menghasikan sesuatu barang produksi maka akan timbul suatu limbah karena tidak mampunya pengolahan yang dilakukan oleh manusia menggunakan mesin dan juga sulitnya untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi barang yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Berikut adalah limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia misalnya :
1)      Hasil pembakaran bahan bakar pada industry dan juga kendaran bermotor,
2)      Pengolahan bahan tambang dan minyak bumi,
3)      Pembakaran hutan untuk membuka lahan pertanian ataupun perumahan.

2.      Aktivitas alam
Selain dari aktivitas diatas pencemaran limbah di bumi juga di timbulkan oleh aktivitas alam walaupun jumlahnya sangat sedikit pengaruhnya terhadap lingkungan karena lokasinya yang bisaanya bersifat lokal. Berikut ini contoh dari aktivitas alam yang menghasilkan limbah yaitu :
1)      Pembusukan bahan organik alami;
2)      Adanya aktivitas gunung berapi;
3)      Banjir, longsor serta aktivitas alam yang lainnya.

Karena kedua aktivitas ini menimbulkan limbah yang mencemari lingkungan, manusia di bumi terus mengembangkan teknologi untuk mencegah dampak pencemaran lingkungan. Walaupun dilain pihak limbah terus meningkat terutama diakibatkan oleh aktivitas manusia hal ini didorong oleh beberapa faktor sebagai berikut :

1.      Perkembangan industri
Perkembangan industri yang sangat cepat baik pertambangan, transportasi dan manufakur atau pabrik yang mengahasilkan limbah dalam jumlah yang relative besar sehingga terjadi pembuangan limbah yang kurang terkontrol karena kurannya teknologi untuk membuat limbah menjadi barang yang terurai atau ramah lingkungan.



2.      Modernisasi
Pada saat sekarang perkembangan teknologi untuk menghasilkan barang semakin marak digunakan dikalangan orang yang mengeluti bidang industri. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan barang dengan cepat tetapi di lain hal perkembangan teknologi berakibat pada semakin banyaknya limbah yang dihasilkan oleh teknologi itu sendiri.

3.      Pertambahan penduduk
Semakin banyaknya penduduk di bumi ini mengakibatkan bertambah meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal serta meingkatnya jumlah kebutuhan akan barang. Hal ini dapat menimbulkan berberpa macam masal seperti :

1)      Pembukaan lahan untuk pemukiman dan saran transportasi
Hal tersebut berdampak terhadap semakin berkurangnya hutan untuk mengurangi kadar pencemaran lingkungan.

2)      Penimbunan limbah
Kurang mampunya TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dalam menampung limbah sehingga limbah menumpuk di suatu tempat yang berdampak terhadap kualitas lingkungan sekitar yang akan menurun.

2.3.2.      Jenis Limbah

Bermacam-macam limbah mungkin akan kita temui di sekitar kita. Pernahkah anda melihat limbah plastik, kaleng, pecahan kaca, kotoran hewan dan lain sebagainya. Dari sekian banyaknya limbah ini dapat dikelompokan berdasar sumber dari limbah ini berasal seperti penjelasan di bawah ini :

1.      Garbage yaitu sisa pengelolaan atau sisa makanan yang mudah membusuk. Misal limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga, restoran dan hotel.
2.      Rubbish yaitu bahan atau limbah yang tidak mudah membusuk yang terdiri dari :
1)      Bahan yang mudah terbakar seperti kayu   dan kertas;
2)      Bahan yang tidak mudah terbakar seperti kleng dan kaca.
3.      Ashes yaitu sejenis abu hasil dari proses pembakaran seperti pembakaran kayu, batubara maupun abu dari hasil industri.
4.      Dead animal yaitu segala jenis bangkai yang membusuk seperti bangkai kuda, sapi, kucing tikus dan lain-lain.
5.      Street sweeping yaitu segala jenis limbah atau kotoran yang berserakan di jalan karena perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab.
6.      Industrial waste yaitu benda-benda padat sisa dari industri yang tidak tepakai atau dibuang. Misalnya industri kaleng dengan potongan kaleng-kaleng yang tidak terolah.


2.4.   Komposisi, Dampak, Pengelolaan dan Pembuangan Limbah

2.4.1.      Komposisi Limbah

Berdasarkan komposisinya, limbah dibedakan menjadi dua, yaitu:

1.      Limbah Organik, yaitu limbah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Limbah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
2.      Limbah Anorganik, yaitu limbah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Limbah ini dapat dijadikan limbah komersil atau limbah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa limbah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton. Di negara-negara berkembang komposisi limbah terbanyak adalah limbah organik, sebesar 60 – 70%, dan limbah anorganik sebesar ± 30%.
3.      Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, berdasarkan Pasal 1 angka (20) UUPPLH adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

2.4.2.      Dampak bagi lingkungan sekolah

Dampak negatif yang ditimbulkan dari limbah yang tidak dikelola dengan baik adalah sebagai berikut:

1.      Gangguan Kesehatan
Timbunan limbah dapat menjadi tempat pembiakan lalat yang dapat mendorong penularan infeksi.
Timbunan limbah dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus.

2.      Menurunnya kualitas lingkungan

3.      Menurunnya estetika lingkungan
Timbunan limbah yang bau, kotor dan berserakan akan menjadikan lingkungan tidak indah untuk dipandang mata;
4.      Terhambatnya proses belajar mengajar
Dengan menurunnya kualitas dan estetika lingkungan, mengakibatkan semangat, ketenangan, dan konsentrasi belajar para siswa akan terganggu sehingga proses belajar mengajar terhambat.

2.4.3.      Pengelolaan Limbah

Agar pengelolaan limbah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan limbah harus mengikuti filosofi pengelolaan limbah.Filosofi pengelolaan limbah adalah “bahwa semakin sedikit dan semakin dekat limbah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan menjadi lebih mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit”.

Tahapan Pengelolaan limbah yang dapat dilakukan di lingkungan sekolah:

1.      Pencegahan dan Pengurangan Limbah dari Sumbernya.
Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan limbah organik dan anorganik dengan menyediakan tempat limbah organik dan anorganik.

2.      Pemanfaatan Kembali.
Kegiatan pemanfaatan limbah kembali, terdiri atas:

1)      Pemanfaatan limbah organik, seperti composting (pengomposan). Limbah yang mudah membusuk dapat diubah menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan Berdasarkan hasil, penelitian diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan composting limbah organik yang komposisinya mencapai 70%, dapat direduksi hingga mencapai 25%.

2)      Pemanfaatan limbah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangkan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastik, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.





2.4.4.      Tempat Pembuangan Limbah Akhir

Sisa limbah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan composting maupun pemanfaatan limbah anorganik,  jumlahnya mencapai ± 10%, harus dibuang ke Tempat Pembuangan Limbah Akhir (TPA). Di Indonesia, pengelolaan TPA menjadi tanggung jawab masing-masing Pemerintah daerah.
Dengan pengelolaan limbah yang baik, sisa limbah akhir yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi hanya sebesar ± 10%. Kegiatan ini tentu saja berguna bagi pembelajaran bagi para siswa untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menangani limbah, serta memperkecil permasalahan limbah yang saat ini dihadapi oleh banyak orang saat ini.
Pengelolaan limbah yang dilakukan di lingkungan sekolah akan memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah:
1.      Menjaga keindahan, kebersihan dan estetika lingkungan sekolah sehingga nyaman dalam proses belajar mengajar ;
2.      Mengasah kreatifitas para siswa dalam penanganan limbah;
3.      Berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam;
4.      Mengurangi beban Pemda dalam mengelola limbah.
 
-->
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu, Tempat, Metode dan TujuanPenelitian

3.1.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Adapun Penelitian yang dilakukan pada tanggal28 Desember 2012 dan 7 mei 2012, di Jl.Pramuka, Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi.
Pada saat penelitian tim penulis dipandu oleh Bapak Asep selaku pemilik PD. Berkah Ummi Group hal ini di maksudkan supaya proses penelitian dapat berjalan dengan lancar dan efisien. Selain itu, tim penulis mengadakan kunjungan sekaligus penelitian di PD. Berkah Ummi Group.
Penelitian dilakukan satu tahap dan dilakukan dengan pembagian tim penulis  menjadi tiga kelompok. Tujuan pembagian ini, di maksudkan untuk mempermudah pengolahan dan perolehan data yang murni.
Selainitu, tim penulis juga mencari berbagai referensi yang bersumber dari internet maupun dari buku-buku yang menyangkut tentang limbah di Perpustakaan SMK Negeri 2 Kota Sukabumi. Dari penelusuran tersebut, tim penulis berhasil mendapatkan berbagai data-data informasi yang relevan.

3.1.2. MetodePenelitian

Adapun sarana yang dipergunakan untuk mengetahui tentang objek yang ditentukan adalah :

1.      Wawancara
Tim penulis melakukan wawancara langsung dengan pemilik pabrik dan warga sekitar industri tentang keberadaan pabrik di daerah tersebut.

2.      Observasi
Tim penulis melakukan observasi langsung ke pabrik yang berada di daerah tersebut.

3.      Studi Pustakaan
Tim penulis melakukan pencarian data dari buku serta media informasi lain yang berkaitan dengan objek penelitian.

3.1.3. TujuanPenelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:
1.    Mendeskripsikan pengolahan  limbah home industry yang penulis tinjau di P.D Barokah Ummi Group.
2.      Mendeskripsikan manfaat dan dampak dari home industry bagi lingkungan sekitar.
3.  Untuk memberikan kesadaran kepada kita betapa pentingnya menjaga dan memelihara lingkungan kita agar terhindar dari pencemaran.
4.     Supaya siswa/i yang sudah belajar hal yang mengenai limbah dapat menginformasikan kepada masyarakat agar tidak membuang limbah disembarang tempat.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Penelitian karya tulis ilmiah ini dilakukan di sebuah home indusrty bernama P.D. Berkah Ummi Group yang bertempat di Jl.Pramuka, Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Home industry  ini adalah salah satu  jenis home industry kripik pedas terbesar di Sukabumi dan telah tersohor di dalam maupun luar kota seperti Bogor , Cianjur dan Jakarta. Tidak hanya memproduksi kripik pedas home industry ini juga memproduksi kerupuk pedas beraneka rasa. Home industry ini memiliki 40 karyawan yang mempunyai tugas yang berbeda-beda, diantaranya : 29 karyawan bagian pengepakan dan pengupasan, 10 karyawan bagian penggorengan dan pemotongan  , dan 1 orang sebagai leader karyawan.
P.D Berkah Ummi Group adalah perusahaan keluarga yang  diketuai oleh Bapak Asep. PD ini telah berjalan selama 6 tahun yang perharinya mampu memproduksi 800 pak yang 1 paknya berisi 20 bungkus keripik/kerupuk. PD ini juga telah menjadi salah satu lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, terbukti dengan semua karyawannya adalah masyarakat sekitar.
Pak Asep menuturkan bahwa laba kotor home industry ini hasilkan per-minggu nya ialah sebesar Rp.40.000.000 dari berbagai produk yang diproduksi. Dan laba bersih yang Pak Asep dan keluarganya terima sekitar 15% dari laba tersebut. cukup besar jika dilihat dari jenis perusahaan home industry.
Cabai yang digunakan oleh PD Ummi Group ini adalah cabai import dari Thailand. Cabai ini dipilih bukan karena tidak  menghargai produk tanah air, akan tetapi cabai ini dipilih karena rasa yang dihasilkan pedas manis,tidak seperti cabai lokal yang pedas pahit.
 PD Berkah Ummi Group terletak didalam gang, dimana gang tersebut berdiri ratusan rumah warga. Tim penulis melihat bahwa keberadaan home industry tersebut strategis,walaupun berada di tengah pemukiman tetap tidak mengganggu kelangsungan hidup masyarakat sekitar pabrik tersebut, karena berada di lingkungan terbuka.
Limbah yang dihasilkan pabrik sangatlah beraneka ragam termasuk PD Berkah Ummi Group, yang menghasilkan berbagai limbah yang terdiri dari: limbah minyak sisa penggorengan atau yang biasa masyarakat indonesia sebut minyak  jelantah, kulit singkong , plastik, dan asap yang dihasilkan ketika penggorengan berlangsung.



4.2. Pembahasan
Menurut hasil observasi penulis, limbah yang dihasilkan oleh PD Berkah Ummi Group dimanfaatkan kembali dan tidak terbuang sia-sia. Diantaranya :
4.2.1.      Limbah minyak sisa penggorengan
Karena home industry ini masih menggunakan cara manual untuk proses pengepakan maka proses pengepakan dilakukan dengan cara membakar ujung plastik untuk merapatkan bungkusannya, dan bahan bakar yang dipakai adalah minyak sisa penggorengan.

4.2.2.      Limbah kulit singkong
Kulit singkong yang jelas tidak diperlukan untuk pembuatan kripik sehingga dijadikan pupuk organik/kompos dan pakan ternak.

4.2.3.      Asap hasil penggorengan
Untuk proses penggorengan PD Berkah Ummi Group menggunakan bahan bakar kayu. Maka dari itu asap yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan menggunakan bahan bakar gas, tetapi asap tidak akan  mengganggu warga sekitar karena asap tersebut diarahkan oleh sebuah kipas angin menuju ke sawah yang letaknya tidak terlalu dekat dari pemukiman warga.

4.2.4.      Limbah plastik
Untuk limbah plastik, tim penulis menemukan informasi bahwa plastik-plastik tersebut dibakar  bersama barang sisa (barang yang dikembalikan pedagang) dan sebagian dibuang percuma.

Tidak hanya mencari informasi kepada PD Berkah Ummi Group saja. Penulis juga mencari informasi kepada masyarakat sekitar terkait keberadaan home industry tersebut. Mereka menuturkan keberadaan PD Berkah Ummi Group tidak mengusik ataupun merugikan kelangsungan hidup masyarakat sekitar pabrik. Tetapi sebaliknya, senada dengan namanya “Berkah” karena dengan adanya home industry tersebut pengangguran disekitar  PD Berkah Ummi Group  berkurang. Disebabkan semua karyawan yang bekerja adalah warga sekitar.

-->
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah) atau juga dapat dihasilkan oleh alam yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.
Karakteristik limbah: Berukuran mikro; Dinamis berdampak luas (penyebarannya); Berdampak jangka panjang (antar generasi); Limbah merupakan hasil dari aktivitas manusia dan aktivitas alam.Pengolahan limbah merupakan cara untuk mengurangi pencemaran yang diakibatkan oleh limbah.
Pemeliharaan lingkungan dewasa ini mutlak diperlukan karena lingkungan kita semakin hari semakin rusak akibat pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan tidak dapat dihindari tapi perlu di kendalikan agar tidak semakin parah. Berbagai cara dapat dilakukan diantaranya dengan mengurangi penggunaan bahan pencemar (reduce), menggunakan kembali barang untuk kegunaan yang sama (reuse), dan melakukan daur ulang barang (recycle).
Dalam penelitian ini, tim penulis menemukan bahwa home industry PD. Berkah Ummi Group telah menerapkan proses menggunakan kembali barang (reuse) seperti limbah minyak menjadi bahan bakar lampu, kulit singkong menjadi pupuk kompos.

5.2. Saran

Pengolahan limbah disaat ini perlu perhatian khusus mengingat semakin banyaknya volume limbah di lingkungan sekitar. Dengan pengolahan limbah diharapkan lingkungan sekitar bisa tetap alami tidak tercemar oleh limbah.
Maka dari itu tim penulis menyarankan:

1.      Untuk mempertahankan cara pengelolaan limbah yang dihasilkan home industry PD Berkah Ummi Group. Agar limbah tidak terbuang sia-sia dan keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

2.      Karena home industri ini masih menggunakan kayu untuk bahan bakar. Maka sudah menjadi rahasia umum bahwa kayu menjadi barang mewah yang lama-lama akan sulit didapatkan ketika populasi manusia semakin meningkat. Maka tim penulis menyarankan untuk menggunakan biogas untuk bahan bakar selain lebih hemat dan tahan lama juga secara tidak langsung bisa menyelamatkan lingkungan dari kelangkaan kayu dimasa yang akan datang.
3.      Tim penulis menyarankan untuk meningkatkan kebersihan pabrik. Karena tim penulis lihat tidak sedikit sampah-sampah plastik, barang sisa yang dibiarkan dan berserakan. Juga sarang laba-laba yang menumpuk di bilik-bilik dinding. Tidak menutup kemingkinan jika produk akan terkontaminasi bakteri-bakteri.

 
-->
DAFTAR PUSTAKA


Group, Ummi, Berkah. Jl Pramuka. Cikondang. Sukabumi ; PD Berkah Ummi Group.

Ciputra Entrepreneurship. 2009. Limbah Tak Selalu Jadi Sampah. Tersedia :  http://ciputraentrepreneurship.com/en/indonesian-entrepreneur/589-limbah- tak-selalu-jadi-sampah.html  [8 April 2010]

Dahlan Forum. 2009. Pencemaran Lingkungan. Tersedia: http://dahlanforum.wordpress.com/2009/03/27/pencemaran-lingkungan. [April 2010]

Wardhana, Wisnu Arya. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan.Yogyakarta: Andi offset

Pasal 1 angka (20) Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH).